Logo GerobakPOS GerobakPOS

Kopi — Aplikasi Kasir & Cara Hitung Untung Harian

Jenis Usaha

Masalah pencatatan di usaha kopi

Gerobak kopi hidup di dua puncak yang jaraknya jauh. Puncak pertama subuh sampai pukul sembilan pagi: pengemudi ojek daring, buruh, dan orang kantoran memesan sambil satu kaki masih di motor. Puncak kedua mulai pukul delapan malam sampai lewat tengah malam: pembeli duduk lama, memesan bertahap, lalu menambah lagi satu jam kemudian.

Cara memesannya juga khas. Jarang ada yang memesan satu cup saja pada malam hari. Yang datang biasanya mewakili tiga sampai lima orang, dan tiap cup punya permintaan berbeda: satu kurang gula, satu tanpa es, satu dibungkus untuk dibawa pulang. Kamu menyeduh sambil mengingat urutan itu, dan pada saat yang sama pembeli berikutnya sudah menyebut pesanannya.

Yang membuat kopi lebih licin dicatat dibanding dagangan lain adalah nilainya per cup yang kecil. Rp6.000 sampai Rp18.000 tidak terasa “penting untuk ditulis”. Padahal 70 cup dalam semalam adalah uang yang serius. Karena tidak pernah dicatat satu per satu, kamu hanya tahu isi laci saat tutup — bukan cup mana yang paling laku dan mana yang cuma memakan tempat di gerobak.

Pos biaya kopi juga habis diam-diam. Bubuk kopi, susu kental manis, gula aren, es batu, cup beserta tutup dan sedotan. Es batu paling licik: dibeli hampir tiap hari dengan nominal kecil, jadi nyaris tidak pernah dianggap pengeluaran.

Saat mendaftar dan memilih jenis usaha Kopi, daftar menu berikut langsung siap di layar jualan:

KategoriMenuHarga contoh
KopiKopi HitamRp6.000
KopiKopi SusuRp10.000
KopiKopi Susu Gula ArenRp15.000
PelengkapKopi LatteRp18.000
PelengkapRoti BakarRp14.000
PelengkapPisang GorengRp3.000

Harga di atas hanya contoh awal. Harga bubuk kopi dan susu berbeda antar kota, dan gerobak di depan kampus tentu memasang harga berbeda dengan kedai di komplek perumahan. Ubah semuanya sesuai tempatmu. Menambah menu baru, mengganti nama, atau menghapus yang tidak dipakai bisa dilakukan kapan saja — caranya ada di panduan menambah produk pertama.

Mulai jualan dalam 3 menit

  1. Unduh aplikasinya, lalu daftar memakai nomor HP dan kata sandi.
  2. Pilih jenis usaha Kopi di layar awal.
  3. Menu di tabel tadi langsung muncul. Ketuk menu, ketuk Bayar, selesai.

Tidak ada aktivasi, tidak ada janji temu dengan sales. Untuk pesanan rombongan malam hari, kamu bisa membuka beberapa pesanan berjalan sekaligus, jadi cup milik meja depan tidak tercampur dengan pesanan yang baru masuk.

Menghitung untung kopi

Anggap satu malam ramai kamu menjual 25 Kopi Hitam (Rp6.000), 18 Kopi Susu (Rp10.000), 12 Kopi Susu Gula Aren (Rp15.000), dan 10 Pisang Goreng (Rp3.000). Uang masuk:

  • 25 × Rp6.000 = Rp150.000
  • 18 × Rp10.000 = Rp180.000
  • 12 × Rp15.000 = Rp180.000
  • 10 × Rp3.000 = Rp30.000
  • Total masuk: Rp540.000

Hari itu kamu juga belanja: bubuk kopi satu kilogram Rp90.000, susu kental manis dan gula aren Rp70.000, es batu Rp20.000, cup beserta tutup dan sedotan Rp45.000, serta gas Rp25.000. Semua dicatat di menu Pengeluaran dengan kategori yang sudah tersedia (Modal/Kulakan, Bahan, Gas). Uang keluar Rp250.000.

Rekap harian menampilkan empat angka: Masuk, Keluar, Sisa, dan Perkiraan Untung. Untuk contoh ini perkiraan untungnya Rp540.000 − Rp250.000 = Rp290.000.

Dua hal yang membuat angka itu jujur. Pertama, pengeluaran tidak ikut dianggap penjualan — belanja es batu tetap tercatat sebagai uang keluar, bukan hilang begitu saja dari hitungan. Kedua, cup yang diminum sekarang tapi dibayar belakangan tidak dihitung sebagai uang masuk sampai benar-benar dilunasi. Rincian cara bacanya ada di halaman laporan untung.

Kasbon pelanggan langganan

Kopi adalah dagangan langganan. Satpam yang piket malam, montir bengkel sebelah, dan penjaga warnet bisa mampir tiap hari. Sebagian dari mereka minta “dicatat dulu, nanti dibayar Sabtu” — dan pola mingguan seperti ini sangat umum di gerobak kopi.

Catat cup semacam itu sebagai kasbon dengan nama pembelinya. Aplikasi menjaga sisa yang belum lunas, menerima cicilan, dan saat pelunasan datang barulah uangnya masuk ke rekap hari itu. Kalau tagihannya mulai menumpuk, ada tombol tagih lewat WhatsApp yang menyiapkan pesannya — kamu yang meninjau dan menekan kirim. Utang ke agen susu atau cup juga bisa dicatat di sisi sebaliknya, supaya kamu tahu berapa yang harus disiapkan saat agen datang.

Kenapa offline penting untuk kopi

Gerobak kopi menempel di tempat-tempat yang sinyalnya paling tidak bisa diandalkan: bahu jalan di bawah jembatan layang, halaman parkir ruko yang sudah tutup, pelataran pom bensin, atau pos ronda di ujung gang. Tambahkan jam operasi malam, saat pemakaian internet sedang paling padat, dan kamu sering kehilangan sinyal justru ketika antrean paling panjang.

GerobakPOS mencatat lebih dulu di HP. Transaksi tersimpan seketika, tanpa tanda muter menunggu server. Saat sinyal kembali, catatan dikirim di latar belakang tanpa kamu urus. Kamu bisa berdagang berhari-hari tanpa internet dan datanya tetap utuh — penjelasannya di kasir offline sampai 14 hari.

Pertanyaan yang sering ditanya

Bagaimana mencatat pesanan lima cup sekaligus? Ketuk menu yang sama beberapa kali atau naikkan jumlahnya, lalu bayar satu kali untuk seluruh pesanan. Uang diterima dan kembalian dihitung otomatis, jadi tidak salah menghitung recehan dalam gelap.

Kalau gula aren habis di tengah malam? Ketuk tombol Habis pada menu itu. Menu tersebut tidak bisa dipesan lagi sampai kamu nyalakan kembali, dan produknya tidak perlu dihapus.

Bisa terima pembayaran nontunai? Bisa. Tunai, QRIS statis yang ditampilkan di layar lalu kamu konfirmasi manual, atau transfer manual — semuanya tercatat terpisah di rekap.

Harus punya printer struk? Tidak. Struk bisa dikirim sebagai teks lewat WhatsApp. Printer Bluetooth hanya pilihan tambahan, bukan syarat.

Siap mencoba?

Menu kopi sudah menunggu di dalam aplikasi, lengkap dengan kategori dan harga contoh yang tinggal kamu sesuaikan.

Unduh GerobakPOS gratis dan mulai catat cup pertamamu malam ini.

Siap coba GerobakPOS?

Gratis untuk satu gerobak — offline, ringan, tanpa printer.